Ikhlas adalah Persoalan Hati  | BloG Riyanti dot Web dot Id

Ikhlas adalah Persoalan Hati

August 14th, 2009 7 Comments

Memang terlalu sederhana menggambarkan ikhlas seperti itu. Dalam agama, ikhlas merupakan ibadah hati yang paling mendapatkan perhatian para Ulama. Sesuatu yang tidak mudah, sulit diartikan karena menyangkut persoalan hati.
Seperti dikatakan Ibnu Qayyim, ikhlas adalah memurnikan niat dan segala aktivitas sebagai kholifah Allah di muka bumi, hanya untuk mencari ridho-Nya. Seorang hamba yang terlatih dengan jiwa ikhlas, tidak mungkin mencari pujian, popularitas, berebut jabatan atau kedudukan. Orang yang mencari-cari popularitas atau jabatan, tentu ada maksud tertentu yang seringkali didorong oleh hawa nafsu. Adakalanya melakukan aktivitas karena menginginkan namanya dikenal, menjadi buah bibir, mendapat penghormatan, pujian dan sebagainya. Oleh karenanya, ia akan kecewa, apabila yang diinginkan itu tidak terwujud. Bahkan tidak mustahil akan terputus asa atau kapok melakukan suatu aktivitas yang sama. Hal yang demikian ini mengindikasikan tidak adanya ikhlas dalam suatu perbuatan, baik berupa amal yang langsung maupun berhubungan dengan Allah, maupun amal sosial dalam hidup bermasyarakat.

Macam-macam ungkapan Ulama Salaf tentang ikhlas, ada yang mengatakan bahwa ikhlas adalah amal ibadah hanya karena Allah tidak ada bagian bagi selain-Nya, bertujuan mengesakan Allah. Dalam perbuatan taat, membersihkan amal dari perhatian semua makhluk, seta membersihkan amal dari setiap sebab-sebab yang menjerumuskan.
Karena itu, satu riwayat yang menarik untuk diperhatikan. Suatu ketika, Abu Umamah al-Bahili ra. (W. 86 H), salah sahabat setia Nabi asal Syam (Suriah) bercerita, ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapat Tuan ketika melihat seseorang yang berperang, tapi mendapatkan upah dan ketenaran?” Rasulullah menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa-apa!” Laki-laki itu bertanya lagi hingga tiga kali dan jawaban Rasulullah pun tetap tidak berubah. Akhirnya, Nabi SAW berkata untuk terakhir kalinya, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal seseorang tanpa ia ikhlas melakukannya dan semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah”.

Nabi Muhammad mengajarkan kepada kita untuk melakukan segala sesuatu dengan ikhlas, tanpa pamrih. Segala bentuk benda materi yang didapatkan seseorang sejatinya tidak akan berarti apa-apa di sisi Allah, ketika hasil itu didapat dengan jalan tidak halal. Amal perbuatan seorang hamba tidak bernilai bagi Allah, ketika ia melakukannya dengan terpaksa.

Allah mengetahui apa yang terbetik dan maksud dalam hati setiap hamba-Nya. Tidak ada yang tersembunyi sedikit pun dari pengawasan-Nya. Ikhlas dan tidaknya seseorang dalam beramal tidak akan diketahui secara lahiriyah, karena ia ada di dalam hati, hanya Allah dan kita yang sendiri yang tahu. Maka tak mengherankan saat Rasulullah ditanya tentang seorang pejuang yang gagah berani berperang menaklukkan musuh, tapi ia melakukan hanya untuk mendapatkan gaji atau upah atau semata-mata untuk mendapatkan ketenaran, semua itu tidak ada nilainya di sisi Allah.

 

Sign up Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates, Enter your Email here:

Don't forget to confirm your email subcription

   

7 Comments to “Ikhlas adalah Persoalan Hati”

  1. Rahmad says:

    Mampir lagi ah…
    Buat riyanti yang manis, boleh dong aku tambahi pengertian ikhlas…
    Berikut ini adalah perkara yang berhubungan dengan ikhlas
     
    Bermula ikhlas itu ada 3 perkara:
    1. Ikhlas orang mubtadi
    Bersuci dari riya’ dan sama’ah dengan harapan mendapatkan pahala masuk surga dan karena takut mendapat adzab masuk neraka.
    2. Ikhlas orang mutawasitoh
    Bersuci dari riya’ dan sama’ah semata-mata hanya karena Allah, mengerjakan perintah Allah karena dia hamba Allah. Mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan bukan karena mengharapkan masuk surga bukan juga karena takut masuk neraka.
    3. Ikhlas orang muntahji
    Tidak melihat-lihat amal, bagi dirinya amal hanya memandang af’al (perbuatan) Allah Ta’ala pada dirinya.
    Perbedaan amal yang 3 perkara tersebut:
    1. Orang mubtadi
    Adapun amal orang mubtadi itu syariat semata-mata karena membangsakan amal bagi dirinya dan menuntut/mengharapkan balasan atas segala amalnya.
    2. Orang mutawasitoh
    Adapun amal orang mutawasitoh sama seperti amal orang mubtadi hanya saja lebih halus syariatnya karena ada wujudnya. Sabda Rasulullah SAW:
    Wajudu khazanbun la qillasalahu lighorikhi
    Artinya:
    “Bermula wujudmu itu dosa, tiada boleh kisakan baginya bagi lainnya”
    3. Orang muntahji
    Adapun amal orang muntahji yaitu lepas daripada halus syariat, inilah yang dituntut adanya. (maksud lepas dari halus syariat adalah engkau keluar dari diri engkau).
    sumber materi berasal dari sebuah kitab yang berusia ratusan tahun yang ditulis oleh seorang syech sufi dalam huruf gundul berbahasa melayu, gurunya guru saya. Tapi… semalam kurang lebih jam 10 malam tgl 20 Peb’ 2010 guru saya (M. Soleh Anwar) meninggal dunia pada usia 91 tahun. Selamat jalan guru mursyid, ilmu tauhid yang kau ajarkan pada saya sangat bermanfaat. Do’a kami menyertaimu, meski kami tak bisa ikut melayat karena jarak yang jauh Palembang-Lampung.
    Jadi mari kita introspeksi diri… tanyakan pada diri anda “ikhlas saya masuk kelompok yang mana??”… Hanya anda yang bisa menjawab. Waallahu a’lam.

    [Reply]

  2. Rahmad says:

    Mampir lagi ah…
    Buat riyanti yang manis, boleh dong aku tambahi pengertian ikhlas…
    Berikut ini adalah perkara yang berhubungan dengan ikhlas
     
    Bermula ikhlas itu ada 3 perkara:
    1. Ikhlas orang mubtadi
    Bersuci dari riya’ dan sama’ah dengan harapan mendapatkan pahala masuk surga dan karena takut mendapat adzab masuk neraka.
    2. Ikhlas orang mutawasitoh
    Bersuci dari riya’ dan sama’ah semata-mata hanya karena Allah, mengerjakan perintah Allah karena dia hamba Allah. Mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan bukan karena mengharapkan masuk surga bukan juga karena takut masuk neraka.
    3. Ikhlas orang muntahji
    Tidak melihat-lihat amal, bagi dirinya amal hanya memandang af’al (perbuatan) Allah Ta’ala pada dirinya.
    Perbedaan amal yang 3 perkara tersebut:
    1. Orang mubtadi
    Adapun amal orang mubtadi itu syariat semata-mata karena membangsakan amal bagi dirinya dan menuntut/mengharapkan balasan atas segala amalnya.
    2. Orang mutawasitoh
    Adapun amal orang mutawasitoh sama seperti amal orang mubtadi hanya saja lebih halus syariatnya karena ada wujudnya. Sabda Rasulullah SAW:
    Wajudu khazanbun la qillasalahu lighorikhi
    Artinya:
    “Bermula wujudmu itu dosa, tiada boleh kisakan baginya bagi lainnya”
    3. Orang muntahji
    Adapun amal orang muntahji yaitu lepas daripada halus syariat, inilah yang dituntut adanya. (maksud lepas dari halus syariat adalah engkau keluar dari diri engkau).
    sumber materi berasal dari sebuah kitab yang berusia ratusan tahun yang ditulis oleh seorang syech sufi dalam huruf gundul berbahasa melayu, gurunya guru saya. Tapi… semalam kurang lebih jam 10 malam tgl 20 Peb’ 2010 guru saya (M. Soleh Anwar) meninggal dunia pada usia 91 tahun. Selamat jalan guru mursyid, ilmu tauhid yang kau ajarkan pada saya sangat bermanfaat. Do’a kami menyertaimu, meski kami tak bisa ikut melayat karena jarak yang jauh Palembang-Lampung.
    Jadi mari kita introspeksi diri… tanyakan pada diri anda “ikhlas saya masuk kelompok yang mana??”… Hanya anda yang bisa menjawab. Waallahu a’lam.
    Link url riyanti sudah saya pasang di blog http://madtauhid.wordpress.com
    mohon backlink dari riyanti. Salam suayaaang……

    [Reply]

    riyanti Reply:

    matur tengkyu sanget atas tambahannya pakde…
    siap meluncur ke TKP, n link segera aku tautkan :)

    salam sayank 2

    [Reply]

  3. kikakirana says:

    ikhlas,,, arti yang sederhana namun mengandung makna yang sebesar”nya tapi pelaksanaannya gag semudah yang dikira…
     
    HIDUP!!! ^_^

    [Reply]

    riyanti Reply:

    yoi bener jeng…tp sll harus berusaha tuk ikhlas dalam segala hal, semampu qt, semoga bisa!!! Amien…

    salam sayank….

    [Reply]

  4. dansen says:

    menurut saya ikhlas itu bagaikan buah kelapa.
    pertama waktu memetiknya udah di jatuhkan dari atas pohon kelapa yang tinggi.
    terus kemudian biasanya membawanya pun lebih sering ditendang-tendang (digelindingkan pake kaki)
    kemudian mengelupasnya pun dibacok bacok pake arit/golok
    kemudian setelah dikelupas  dipecah batok nya, untuk diambil isinya
    isinya kemudian diparut hingga kecil-kecil
    hasil parutan tersebut kemudian diremas-remas untuk diambil santannya
    kemudian santannya dicampurkan kedalam masakan
    sampai akhirnya jadilah masakan yang enak.
    tapi dalam masakan tersebut, sudah tidak disebutkan lagi buah kelapanya.
    itulah yang disebut ikhlas (sumber : ustadz saya)
    kita berbuat tapi kita tidak menghendaki nama kita untuk dicantumkan.
    Wallahu’alam bisshowaf.
    salam kenal. mampir juga ya ke blog saya. sekalian ijin masukkan link blog ini jadi teman saya :)
    makasih..,

    [Reply]

  5. Heru K Suyarto says:

    Boleh tidak nambah :
    Ikhlas itu adalah apa yang kita lakukan hanya Alloh SWT dan Makhluknya yang mengerjakan saja yang tahu …
    Bahkan Malaikat pencatat kebaikanpun tidak tahu apa yang terjadi … 

    [Reply]

Leave your comment here:


Support By :

AC

Kala`CBox