Ayo, Perangi Rokok di Keluarga Kita!!! | BloG Riyanti dot Web dot Id

Ayo, Perangi Rokok di Keluarga Kita!!!

October 30th, 2009 26 Comments

rokok ab

Suami Anda masih merokok? Si Kecil dan si Sulung mulai bereksperimen dengan rokok? Hati-hati!!! Mereka meracuni diri mereka dan orang lain di sekitar mereka. Yang lebih penting, Allah Ta’ala benci kepada orang-orang yang merusak diri sendiri…

Merokok adalah kebiasaan buruk yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Semua rokok berbahaya bagi orang-orang di sekitarnya yang tidak merokok. Resiko yang dihadapi mereka sama besarnya dengan perokok.

Kebiasaan buruk ini merupakan penyebab penyakit jantung dan pembuluh darah. Sebanyak 82% penderita penyakit jantung adalah perokok. Penyakit ini dengan mudah dapat merenggut nyawa manusia. Sekitar 57% rumah tangga di Indonesia mempunyai sedikitnya satu orang perokok dan hampir semua perokok atau 91,8% merokok di dalam rumah ketika bersama anggota keluarganya, artinya sebagian besar anggota rumah tangga menjadi perokok pasif. Hingga kini perokok aktif di Indonesia mencapai 70% dari total penduduk.

Akibat Paparan Asap Rokok

Paparan asap rokok secara terus menerus bisa menyebabkan penyakit jantung, paru-paru dan kanker yang dengan mudah berakhir dengan kematian. Anak-anak yang terpapar asap rokok secara tetap di lingkungannya, mengalami peningkatan resiko infeksi saluran pernapasan kronis, infeksi telinga bagian tengah, penurunan fungsi paru dan asma. Pada wanita bukan perokok, paparan asap rokok selama kehamilannya menyebabkan penurunan pertumbuhan janin dan bayinya kelak mengalami resiko kematian mendadak. Asap rokok juga sumber polusi rungan yang secara langsung dapat mengganggu kondisi fisik seperti iritasi mata dan hidung, sakit kepala dan pusing, tenggorokan serak, batuk dan gangguan pernapasan.

Hanya dalam waktu 7 detik rokok yang dihisap akan merangsang otak sehingga perokok merasa bergairah. Kalau dihisap lebih lama akan menimbulkan rasa nyaman. Nikotin mengakibatkan ketergantungan sehingga perokok selalu membutuhkan jumlah rokok yang semakin banyak. Nikotin juga menyebabkan pengguml\palan darah dan penyempitan pembuluh darah, sehingga tekanan darah naik dan denyut jantung meningkat.

Gas CO mengikat sel darah merah menggantikan oksigen, sehingga tubuh kekurangan oksigen. Perokok akan merasa kekurangan tenaga, nafas pendek, dan kaki serta tangan dingin. Bila penyempitan pembuluh darah dan kekurangan oksigen mengenai otot jantung akan menimbulkan serangan jantung, dan bila mengenai otak bisa berakibat stroke. Sedangkan tar akan menempel pada saluran napas dan menimbulkan rangsangan kronis yang memicu terjadinya kanker paru.

Hasil penelitian jelas membuktikan, merokok merusak kesehatan dan menyebabkan kematian lebih dini. Beberapa penyakit kanker disebabkan oleh getah tembakau atau tar dari asap tembakau, yaitu kanker paru2, kanker mulut, kanker tenggorokan, dan kanker kandung kemih. Tar juga merusak bulu-bulu amat kecil (cilia) penyaring udara yang masuk ke paru2 dan mengganggu jalan udara, menyebabkan luka dan menyebabkan bronchitis.

Merugikan Orang Lain

Asap rokok tidak hanya membahayakan perokok, tapi juga perokok pasif, yaitu orang yang tidak merokok tapi berdekatan dengan orang yang merokok. Mereka menyerap sejumlah nikotin dan tar. Karenanya, jumlah karbon monoksida di dalam tubuh meningkat yang akhirnya dapat menyebabkan penyakit jantung dan kanker paru2. celakanya, jumlah karbon monoksida yang dihasilkan asap rokok jauh lebih tinggi dibandingkan yang dihasilkan asap kendaraan. Dalam kondisi sangat macet pun, jumlah karbon monoksida dalam udara tidak akan melebihi 4%. Tapi bagi rata-rata perokok, persentase polusi yang disebabkan oleh polusi asap rokok jauh di atas 4%.

Semakin Miskin akibat Merokok

Lebih dari 70.000 artikel ilmiah telah membuktikan secara tuntas bahwa konsumsi tembakau dan paparan terhadap asap tembakau berbahaya bagi kesehatan. Rokok yang dibakar ibarat pabrik bahan kimia. Asap rokok mengandung sekitar 4.000 bahan kimia, 43 diantaranya bersifat karsinogenik. Kebiasaan merokok menjadi penyebab sekitar 25 penyakit di tubuh manusia, dari yang mematikan seperti kanker paru sampai pada yang menyusahkan seperti impotensi. Setengah jumlah perokok akan meninggal pada usia pertengahan dan rata-rata perokok akan kehilangan 20 – 25 tahun usianya akibat merokok.

Kerugian ekonomi akibat rokok setahunnya di dunia sekitar 200 miliar dolar AS. Meski tidak ada data berskala nasional untuk Indonesia, kita tetap dapat menghitung bagaimana ekonomi rokok pada bangsa Indonesia.

Menurut ahli paru dan Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Depkes, dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P, MARS, data WHO menyebutkan ada 215 miliar batang rokok yang dikonsumsi di Indonesia setiap tahunnya. Kalau diasumsikan satu abtang rokok sekitar Rp 500 saja, maka artinya ada sekitar Rp 110 triliun yang dibakar setiap tahunnya di negeri ini. Bila harga rokok perbatangnya lebih dari Rp 500, untuk sebagian merek bahkan ada yang harganya yang sampai Rp 700 per batang, maka uang yang dibakar percuma setiap tahunnya mencapai sekitar Rp 150 triliun. Kalau uang ini digunakan untuk mengentaskan kemiskinan tentu sangat besar dampaknya.

Kalau dihitung dari sudut lain kita akan mendapat angka yang ternyata hampir sama hasilnya. Sekitar 70 juta orang Indonesia adalah perokok atau 30% dari total penduduk. Kalau mereka rata-rata merokok sebungkus saja sehari, diasumsikan harga rokok sebungkus antara Rp 7.000 sampai Rp 8.000, maka setiap hari kita membakar uang sekitar Rp 500 miliar setiap hari, yang celakanya ada 25 jenis penyakit yang dengan mudah menggerogoti kesehatan tubuh.

Yang bikin miris hati, rakyat miskin uangnya akan habis untuk beli rokok, dan kemudian dia sakit gara-gara rokok itu dan uangnya akan habis lagi (kalau masih ada sisa uang) untuk berobat. Bagaimana tidak, sebagian dari perokok Indonesia yang menghabiskan uang Rp 500 miliar sehari atau sampai Rp 150 triliun setahun ini, sebagian adalah orang miskin.

rokok 2

Terus Bertambah!!!

Prevalensi merokok cenderung meningkat pada kelompok masyarakat berpendidikan rendah dan mempunyai penghasilan rendah atau sebanyak 62,5%. Sedangkan prevalensi perokok dari kalangan social ekonomi tinggi sebanyak 58,4%. Kalau saja hanya 20juta orang Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, maka sekitar sedikitnya 7 juta dari mereka adalah perokok, katakanlah rata2 merokok sebungkus sehari. Artinya, orang Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan setiap harinya dapat membakar uang sampai Rp 50 miliar. Dibakar untuk memperpendek umur, ketimbang dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan makan, sandang, pendidikan dan kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Belum lagi kenyataan bahwa merokok menimbulkan penyakit yang menyebakan hidup semakin susah saja. Secara keseluruhan penduduk Indonesia belanjan tembakau atau rokok sebanyak 2,5 kali lipat dibandingkan pengeluaran untuk biaya pendidikan, dan 3,2 kali lipat dibandingkan untuk biaya kesehatan. Rakyat miskin Indonesia ternyata belanja tembakau sekitar 3 kali lipat dibandingkan untuk biaya pendidikan, dan 4,3 kali lipat dibandingkan untuk biaya kesehatan.

Sebagian ilustrasi, menurut laporan WHO seseorang dapat menghabiskan sampai ¼ penghasilannya untuk beli rokok. Data dari Philipina menunjukkan, bahwa orang yang membeli rokok local 20 batang sehari akan menghabiskan 17% anggaran belanja rumah tangganya. Kalau yang dibeli rokok impor maka 35% anggaran belanja rumah tangganya habis untuk beli rokok. Data lain dari Malaysia menunjukkan, bahwa harga 20 batang rokok dapat setara dengan 5% pendapatan buruh kasar, sementara para petani di Shanghai, China, menghabiskan uang untuk beli rokok dan alcohol lebih banyak dari uang yang mereka gunakan untuk membeli gandum, daging dan buah-buahan.

Iklan Menyesatkan

rokok

Menurut Widyastuti Soerojo, Indonesia konsumen tembakau/rokok kelima terbesar di dunia, setelah Cina, Amerika, Rusia, dan Jepang. Bayangkan sebanyak 215 miliar batang rokok dikonsumsi setiap tahunnya di negeri ini. Yang lebih memprihatinkan, perokok di Indonesia tidak hanya terbatas pada orang dewasa saja, tapi sudah meluas hingga para remaja. Hasil riset merokok menunjukkan, 34% murid sekolah usia SMP di Jakarta pernah merokok dan 16,6% diantaranya masih aktif merokok, di Bekasi, 33% murid usia SMP pernah merokok dan 17,1% diantaranya hingga kini masih merokok. Demikian juga di Medan 34,9% pernah merokok dan 20,9% diantaranya masih aktif merokok hingga kini. Data lain juga melaporkan, sekitar 66,8% murid usia SMP di Jakarta serumah dengan orang yang merokok dan 81,6% tercemar di luar rumah. Kondisi ini meningkatkan angka kematian akibat merokok.

Produsen rokok dengan jeli membidik pasar remaja untuk menjadi target pasar rokok mereka. Maka dipasarkanlah produk rokok yang digembar-gemborkan sebagai rokok yang mengandung kadar tar dan nikotin yang rendah. Produk ini mampu meningkatkan jumlah perokok karena mereka merasa lebih aman merokok rokok berkadar rendah nikotin dan tar. Iklan ini sungguh menyesatkan. Berapa pun kadar nikotin dan tar dalam rokok, tetap berbahaya bagi tubuh manusia.

Semakin gencarnya iklan, promosi dan pemberian sponsor yang berkaitan dengan produk tembakau/rokok, dikhawatirkan dapat mengurangi motivasi perokok untuk berhenti merokok, plus semakin banyak muncul perokok pemula. Sinetron pun dijadikan ajang promosi rokok.

Hasil riset yang dilakukan oleh dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P, MARS menemukan, bahwa 64,28% judul sinetron menampilkan adegan merokok. Hasil riset ini melaporkan, bahwa yang merokok dengan adegan sinetron adalah artis adalah artis dan actor yang berperan sebagai bapak, pengusaha, mandor, penjual bunga, wanita panggilan, tamu di café dan rumah, parker, calo, guru, dokter, dan pacarnya dokter. Riset ini juga menyimpulkan, bahwa 64,6% selebriti merokok dan 62% artis sinetron/film jadi perokok. Yang menyedihkan, jumlah selebriti perokok yang ingin berhenti merokok ternyata relative lebih kecil. Salah satu alasannya karena tuntutan peran yang dimainkan harus jadi perokok. Sebagian public figure, selebriti sangat mempengaruhi gaya hidup dan perilaku masyarakat biasa, mulai dari model rambut, penampilan hingga perilaku. Kebiasaan buruk selebriti ini dimanfaatkan oleh produsen rokok yang mengincar remaja sebagai sasaran pasar produk rokoknya.

Belum menandatangani FCTC

Negeri ini masih dikendalikan oleh rokok. Pemerintah beranggapan penerimaan pajak rokok melalui cukai rokok sekitar Rp 27 triliun bisa membantu menjalankan roda pembangunan. Inilah alasan mengapa pemerintah menghadapi dilemma dan menerapkan regulasi penanggulangan masalah rokok di Indonesia. Tampaknya ini pula alasannya mengapa Indonesia belum juga berani meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Kendati 94% Negara anggota WHO sudah tanda tangan. FCTC ditandatangani 182 negara dan sudah diratifikasi lebih dari 100 negara.

Sebetulnya, Indonesia banyak mendapatkan keuntungan bila meratifikasi FCTC. FCTC mengatur tiga hal, harga, prosedur penjualan serta pengemasan. Isu yang berkembang sengaja disesatkan. Di Indonesia, FCTC akan menimbulkan kekhawatiran pada penutupan pabrik rokok. Padahal jika FCTC diratifikasi, dinegeri ini tidak ada lagi rokok murah. Harga rokok diIndonesia termurah di dunia. Makanya rokok jadi mudah dibeli oleh rakyat miskin bahkan anak2 dan remaja. FCTC juga memungkinkan menghapus system jual rokok ketengan. Rokok hanya bisa dibeli dan dikemas 20 batang. System ketengan ini hanya ada di Indonesia. System ini sangat berbahaya dan tidak efektif untuk mengurangi jumlah perokok. Bukankah cara terbaik untuk menjauhkan rokok dari kehidupan manusia adalah dengan cara menurunkan keinginan merokok, yang berarti akan menurunkan permintaan akan rokok. Rokok pula yang menyebabkan rakyat miskin semakin melarat saja.

(Dipetik dari tulisan “Perangi Rokok di Keluarga Kita” oleh Ratih Sayidun, ALIA, Februari 2008)

 

Sign up Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates, Enter your Email here:

Don't forget to confirm your email subcription

   

26 Comments to “Ayo, Perangi Rokok di Keluarga Kita!!!”

  1. Abu Ghalib says:

    100% setuju, saya juga pernah merokok tapi alhamdulillah sekarang udah ga lagi deh, sama sekali ga ada manfaatnya.

    Salam kenal dari org GOBLOK yg nekat ngeBLOG…

    [Reply]

    riyanti Reply:

    @Abu Ghalib
    Alhamdulillah deh klo udah bisa berhenti :) emang ga ada manfaatnya sm skli..

    Lam kenal balik ea ^-^

    [Reply]

  2. Cyzko says:

    waduh pertamaxxxxxxx mang susah mo berhenti merokok…

    [Reply]

    riyanti Reply:

    @Cyzko
    Tenang kang, ntar coba postingin tips2 berhenti merokok, boleh dicoba sp tau bs berhenti hehehe ^^

    Salam sayank

    [Reply]

  3. bri says:

    salampagii riyanti
    ngerokok gakueanak
    enakan juga permen karet^^
    __selamatpagii future__

    [Reply]

  4. muamdisini says:

    ya Allah,,,ketika semakin banyak orang yang mengingatkan untuk tidak merokok, kenapa saya harus memulainya yah?..

    [Reply]

    riyanti Reply:

    @Muamdisini
    Ayooo kang semangat buat memulai berhenti merokok, mari qt perangi rokok dr hidup qt semangat2 kang Muam…
    Q Yakin pasti kang Muam bisa, Ok!!!

    Salam sayank

    [Reply]

  5. gabantona says:

    nice post…jalan2 ke blog ku ya..qt tukeran link, link kamu dah aq pasang.. :)

    [Reply]

    riyanti Reply:

    @Gabantona
    Siip dech..Siiiap segera ditautkan balik!!!

    Salam sayank

    [Reply]

  6. adhit says:

    drpd ngerokok mending minum susu aja :)

    [Reply]

    riyanti Reply:

    @Adhit
    Uk dech, pilihan yg ok jg :D

    Salam sayank

    [Reply]

  7. adhit says:

    drpd ngerokok mending ngemil :) )

    [Reply]

    riyanti Reply:

    @Adhit
    Ngemil??? masuk lagi dach hehehe ^-^

    Salam sayank

    [Reply]

  8. sunarno says:

    alhamdulillah, saya tidak pernah merokok

    [Reply]

    riyanti Reply:

    @Sunaryo
    Syukur wal hamdulillah klo ndak pernah merokok, jgn skli2 coba merokok ea coz ntar bs ketagiha lg hehehe ^-^

    Salam sayank

    [Reply]

  9. dony says:

    allhmdllh…. ga rokok tuh, hehe…. setuju mbak lanjutkan…

    [Reply]

    riyanti Reply:

    @Dony
    Siip dech, ^^

    Salam sayank

    [Reply]

  10. millati says:

    Emang! Pengeluaran rumah tangga seminggu buat makan sehari-hari masih kalah jauh sama pengeluaran buat tembakau. Nasi paling 70 ribu kali ya… Tapi rokok? Bisa ampe 200 rebu tuh!

    [Reply]

  11. haniifa says:

    Waduhh… untuk yang ini, belon bisa komeng neehh :(

    Salam sayang selalu dah, sebetulnya sempat baca-baca sehhh… hehehe

    [Reply]

    riyanti Reply:

    @Kang Haniifa
    Why kang?

    Salam sayank 2

    [Reply]

  12. haniifa says:

    @mba Riyanti.
    Why ?!
    Karena sampai saat ini masih ketergantungan zat nikotin dan kafein :(
     

    [Reply]

    riyanti Reply:

    cb kang dikurangi aja merokokna dl, ntar klo bs ya dihentikan gt…
    itu di artikel selanjutna udah q kasih tips tuk berhenti merokok, ya smoga aja bermanfaat buat temen2 gt ^^
    q yakin pasti kang Haniifa bs jk ada kemauan/niat tuk berhenti merokok :)

    salam sayank ^^

    [Reply]

  13. devi says:

    assalamualaikum mbk riyanti :)
    waduh mbak suamiku susah banget mau berhenti ngerokok.mudah2an kalo baca ini ada pencerahan :)
    maksih ya informasinya. Mbak aku ijin nge-link ya :)
    salam

    [Reply]

    riyanti Reply:

    Wa’alaikum salam jeng devi….
    Amien…semoga bermanfaat :)

    MOnggo jeng…

    salam sayank

    [Reply]

  14. amin says:

    assalamualaikum mbk riyanti
    sy blum bisa berhenti nich, tp pengen banget brhnti
    ada tips…. ?

    [Reply]

    riyanti Reply:

    Disitu kan udah ada tips2nya…

    Salam sayank

    [Reply]

Leave your comment here:


Support By :

AC

Kala`CBox