Apr
08

Nilai Kehidupan

By riyanti

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walaupun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekedar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti. “Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini,” katanya dalam hati.

Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon. Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut, “Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini.”

Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, “Hai anak muda, kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.”

Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, “Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini.”

Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, “Bahkan sebatang pohon pun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain.”

Segera timbul kesadaran baru. “Aku manusia, masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain.”

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

13 Comments

1

hehehehe…………
Di antara banyak faktor yang mungkin berpengaruh dalam mengantarkan manusia ke lembah pesimisme dan nihilisme, yang akan disebutkan adalah faktor-faktor yang bersifat umum dan universal yang meliputi banyak motivasi-motivasi partikular. Sebagai contoh, kerusakan dan kesalahan pendidikan merupakan salah satu faktor yang umum dan universal yang bisa mencakup aspek-aspek partikular seperti ketiadaan kasih sayang dalam program pengajaran, pendekatan yang non-manusiawi, kekerasan, dan lain-lain.

ReplyReply

[Reply]

2

cerita yang inspiratif…sekali baca langsung mudheng kandungan dari cerita.

ReplyReply

[Reply]

3

riyanti ymnya koq offline terus ya

ReplyReply

[Reply]

4

Pencerahannya sangat menyentuh n inspiratif. thanks
dzadjakillah khairan :)

ReplyReply

[Reply]

5

Tidak ada satupun ayat dlm kitab suci yg menyuruh kita untuk pesimis. Kita hrus optimis dgn kesabaran. Tetapi sabar bukan berarti menyerah sebelum mengaplikasikan perjuangan.
Djadjakillah khairan

ReplyReply

[Reply]

6

hidup adalah anugrah, sekali, dan akan dimintai pertanggungjawaban masing2…
positif, klo pikiran positif dgn mensyukuri apa yg ada, segalanya bisa baik pelan2 :D

ReplyReply

[Reply]

7

iya makasih
menjadi sedikit sadar dan tergugah dengan pesan yang terkandung dalam cerita ini
kita memng harus mempunyai semngattttt
 

ReplyReply

[Reply]

8

kita memng tidak boleh pesimis kita harus smngat dan trus mngat
untuk mengapai cita cita
 

ReplyReply

[Reply]

9

Setiap kejadian dapat kita jadikan pelajaran

ReplyReply

[Reply]

10

masalah dalam hidup manusia selalu dimulai dari cara pandang yg salah terhadap masalah tersebut.
karena itulah guru spiritual saya pernah berkata : positive thinking adalah inti dari spiritualisme
“Aku adalah bagaimana (prasangka) hambaKU kepadaKU ” – hadits qudsi

ReplyReply

[Reply]

11

cerita ini mudah2an menjadi pengingat kita semua, betapa nilai kehidupan kita ditentukan oleh kita sendiri. JIka kita memutuskan  untuk seperti pemuda tadi mengakhiri kehidupan (jika sampe kejadian) tentunya kehidupan kita benar-benar tidak berarti. dan itu karena kita sendiri.

ReplyReply

[Reply]

12

dah prnah baca tpi mmang inspiratif…
mmbuat hdup lbih semangat dan pantang menyerah…
salam kenal… :)

ReplyReply

[Reply]

riyanti Reply:

Lam kenal balik kang….^^

ReplyReply

[Reply]

Leave a Comment