Musibah, selalukah bermakna buruk???
Seringkali bila kita mendapat suatu musibah, kita merasa saat itu kitalah orang yang termalang di dunia ini. Lantas keluarlah keluh kesah kita, seolah apa yang menimpa kita itu adalah sesuatu yang sangat buruk buat kita. Gagal dalam ujian masuk universitas misalnya, lantas kecewa, sedih, kalut seolah dunia mau kiamat. Segala cita-cita dan harapan serasa pupus, lantas dunia terasa gelap dan bingung tidak tau mau berbuat apa.
Setelah sekian lama berlalu, ketika kita menengok kembali ke belakang barulah kita menyadari bahwa apa yang kita dapatkan dulu itu sesungguhnya adalah sesuatu yang baik untuk kita. Misalnya, cerita seseorang tentang bagaimana dia begitu sedih ketika gagal diterima di universitas impiannya, tapi kemudian keterima masuk kesalah satu universitas yang sebelumya tidak pernah diimpikannya. Ternyata setelah lulus baru dia sadari bahwa banyak sekali keuntungan yang diperolehnya dengan belajar dari universitas yang sama sekali tak diharapkannya tadi. Itu hanyalah salah satu contoh kasus yang mungkin juga kita pernah alami dari sekian banyak kasus sepertinya dalam hidup kita.
Berbeda bila kita mendapat sesuatu yang kita impi-impikan atau mendapat sesuatu yang menyenangkan, bersyukur tentu saja bukanlah sesuatu yang berat untuk kita lakukan. Tapi pernahkah kita mencoba untuk bersyukur bila kita mendapat musibah? Haruskah kita menunggu sampai sekian tahun? Setelah menyadari nikmat di balik bencana yang dulu itu baru kita bersyukur? Mengapa tidak kita coba dari awal lagi, dan percaya bahwa apa yang ditentukan oleh Alloh untuk kita itu sudah tentulah yang terbaik untuk kita. Seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dikisahkan apabila Rasulullah melihat sesuatu keadaan yang tidak disukainya beliau mengatakan :
“Segala puji bagi Alloh dalam setiap keadaan.”
Maka dia bersyukur kepada Alloh dari sisi bahwasanya Alloh akan memberikan kepadanya pahala terhadap musibah ini lebih banyak dari apa yang telah menimpanya. Dan karena itulah disebutkan oleh sebagian ahli ibadah bahwasanya jarinya terluka lalu dia memuji Alloh terhadap musibah tersebut, maka orang-orang berkata : “Bagaimana engkau memuji Alloh dalam keadaan tanganmu terluka?” Maka dia menjawab : “Sesungguhnya manisnya pahala dari musibah ini telah menjadikanku lupa terhadap pahitnya rasa sakitnya.”
Ada macam-macam cara atau keadaan manusia di dalam menghadapi dan menyelesaikan musibah yaitu ada empat keadaan :
Keadaan pertama : yaitu marah, baik dengan hatinya lisannya ataupun anggota badannya. Adapun marah dengan hatinya yaitu dalam hatinya ada sesuatu terhadap Rabbnya dari kemarahan, perasaan jelek atau buruk sangka kepada Alloh (dan kita berlindung kepada Alloh dari hal ini) dan yang sejenisnya bahkan dia merasakan bahwa seakan-akan Alloh telah menzhaliminya dengan musibah ini.
Adapun dengan lisan, seperti menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan, seperti mengatakan “Duhai celaka, duhai binasa!”, atau dengan mencela masa (waktu), yang berarti dia menyakiti Alloh ‘Azza wa Jalla dan yang sejenisnya.
Adapun marah dengan anggota badan seperti menampar pipinya, memukul kepalanya, menjambak rambutnya atau merobek bajunya dan yang sejenis dengan ini. Inilah keadaan orang yang marah yang merupakan keadaan orang-orang yang berkeluh kesah yang mereka ini diharamkan dari pahala dan tidak akan selamat (terbebas) dari musibah bahkan mereka ini mendapat dosa, maka jadilah mereka orang-orang yang mendapatkan dua musibah : musibah dalam agama dengan marah dan musibah dalam masalah dunia dengan mendapatkan apa-apa yang tidak menyenangkan tadi.
Keadaan kedua : yaitu bersabar terhadap musibah dengan menahan dirinya (dari hal-hal yang diharamkan), dalam keadaan dia membenci musibah dan tidak menyukainya bahkan tidak menyukai musibah itu terjadi, akan tetapi dia bersabar (menahan) dirinya sehingga tidak keluar dari lisannya sesuatu yang dibenci Alloh dan tidak melakukan dengan anggota badannya sesuatu yang dimurkai Alloh serta tidak ada dalam hatinya sesuatu (berprasangka buruk) kepada Alloh selama-lamanya, dia tetap bersabar walaupun tidak menyukai musibah tersebut.
“Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (An-Nahl : 96)
Keadaan ketiga : yaitu ridha, di mana keadaan seseorang yang ridha itu adalah dadanya lapang dengan musibah ini dan ridha dengannya dengan ridha yang sempurna dan seakan-akan dia tidak terkena musibah tersebut. Seseorang muslim yang tertimpa musibah hendaknya dia bersyukur dan ridha terhadap ketentuan Alloh ini. Alloh berfirman (yang artinya) :
“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.” (Al-Insaan : 24)
Rasulullah SAW bersabda (yang artinya) :
“Setiap muslin yang tertimpa musibah lalu bersabar dan mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun’” tatkala datang musibah tersebut, kemudian ia mengucapkan : “Ya Alloh, berikanlah kepadaku pahala karena musibah ini dan berikanlah kepadaku ganti yang lebih baik”; pasti Alloh mengabulkan permohonan itu. (HR. Muslim)
Adapun keadaan keempat : bersyukur, yaitu dia bersyukur kepada Alloh atas musibah tersebut, dan adalah keadaannya Rasulullah apabila melihat sesuatu yang tidak disukainya, beliau mengatakan : “Segala puji bagi Alloh dalam setiap keadaan.”
Maka dia bersyukur kepada Alloh dari sisi bahwasanya Alloh akan memberikan kepadanya pahala terhadap musibah ini lebih banyak dari apa-apa yang menimpanya.
Dan karena inilah disebutkan dari sebagian ahli ibadah bahwasanya jarinya terluka lalu dia memuji Alloh terhadap musibah tersebut, maka orang-orang berkata : “Bagaimana engkau memuji Alloh dalam keadaan tanganmu terluka?” Maka dia menjawab : “Sesungguhnya manisnya pahala dari musibah ini telah menjadikanku lupa terhadap pahitnya rasa sakitnya.
Berikut ini adalah hal-hal yang perlu kita perhatikan bila kita ditimpa musibah,
Senantiasa sadar bahwa musibah ini datang dari Alloh SWT. Bahwa semua yang kita alami telah ditentukan oleh-Nya. “Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang sombong dan menyombongkan diri.” (Al-Hadid : 22 – 23)
Bahwa musibah itu baik bagi kita. Ketika kita diberikan musibah apakah itu sakit atau ditinggal mati orang yang dicintai, kita harus ingat bahwa dibalik semua itu tentunya ada hikmah yang akan diberikan Alloh SWT. Kita ingat hadits Rasulullah SAW yang mengabarkan kepada kita bahwa musibah yang kita terima dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat kita, tentunya selama kita ridha dan sabar terhadap musibah tersebut. Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Setiap musibah yang menimpa mukmin baik berupa wabah, rasa lelah, penyakit, rasa sedih, sampai kekalutan hati, pasti Alloh menjadikannya pengampun dosa-dosanya.” (HR. Bukhari – Muslim)
“Setiap musibah yang menimpa orang muslim, pasti Alloh SWT mengampuni (sebagian) dosanya, meski hanya duri yang menusuk kakinya.” (HR. Bukhari – Muslim)
Dari hadits tersebut Rasulullah SAW menjelaskan kepada kita bahwa Alloh menguji kita hanya untuk membersihkannya dari kesalahan dan dosa yang kita lakukan.
Seandainya kita memahami hal ini, yaitu rasa sakit atau musibah lainnya dapat menghapus dosa kitaaa, maka hendaknya kita bersabar dan ridha terhadap hal tersebut, agar kita mendapat apa yang dijanjikan Alloh terhadap orang yang bersabar :
“Sesungguhnya hanya kepada orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar : 10) Apakah ini bukan suatu kemuliaan? Bukankah ini merupakan derajat yang tinggi?
“Sungguh unik perkara orang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah baik. Jika ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur dan jika ia mendapat ujian ia bersabar, maka hal itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Kata-kata ini sangat patut untuk kita renungkan : Umar bin Al-Khaththab ra. berkata : “Kehidupan yang paling baik ialah apabila kita mengetahuinya dengan berbekal kesabaran.” Maka andaikata engkau mengetahui tentang pahala dan berbagai cobaan yang telah dijanjikan Alloh bagimu, tentu engkau bisa bersabar dalam menghadapi sakit atau musibah.
Semoga kita tumbuh menjadi pribadi yang sabar, teguh di jalan-Nya dan semoga Alloh limpahkan kita dengan keberkahan dan kekuatan menghadapi ujian-Nya.

Share This Article
Sign up Free Email Newsletter
Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates, Enter your Email here:Don't forget to confirm your email subcription









16 Comments to “Musibah, selalukah bermakna buruk???”
(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
Yang terpenting dalam menghadapi musibah adalah kesabaran. Semoga dengan sabar kita akan mendapatkan balasan pahala dari Allah swt.
[Reply]
riyanti Reply:
October 20th, 2009 at 12:58 pm
@Alamendah :
MOnggo kang…
Amiienn…
Salam sayank
[Reply]
Mari merenungkan atas segala musibah yang telah terjadi,,apakah itu Ujian atau Azab…
[Reply]
Dibalik musibah selalu ada berkah dan hikmah, tiak selamanya musibah itu jelek, secara fisik dan kasat mata benar adanya, tetapi dibalik itu semua masih ada yang lebih berharga. yaitu memperingatkan kita bahwa masih ada yang lebih berkuasa lagi dari kita.
[Reply]
Assalamu’alaikum,
Musibah yang kita alami merupakan ujian dari Allah. Kita diuji Allah untuk memberikan kesempatan kepada kita agar kita lebih baik lagi. Kita tidak boleh berprasangka bahwa itu merupakan azab, kecuali bila itu dinyatakan sendiri oleh Allah, seperti yang dialami oleh umat Nabi Nuh, misalnya. Nabi Ayub ditimpa musibah dengan sakit bertahun-tahun kan bukan azab.
Akhir Mei 2008 lalu saya mengalami kecelakaan lalulintas, dan harus cuti selama satu tahun, tapi ternyata di balik musibah itu banyak hikmahnya. Saya bersyukur, ternyata nikmat Allah yang saya terima jauh lebih besar.
Terima kasih Mbak, saya copy artikelnya ya.
Salam.
[Reply]
Yang terjadi dengan saya beda. Sudah 1,5 tahun lebih setelah musibah yang menimpa saya terjadi, tidak satupun hal baik yang saya lihat dari musibah itu. Sampai detik ini saya masih mencari bukti apa yang baik dari musibah tersebut. Padahal saya tipe yang bersyukur saat mendapat nikmat, bukan seperti orang pada umumnya yang baru meningkat ibadahnya dan ingat kepada-Nya di saat mendapat kesulitan. Saya beribadahpun tidak mengharapkan pahala – tanpa embel-embel pahala, dosa, surga atau neraka pun saya akan tetap melalukannya saat saya bersyukur (jika memang tidak ada pahala dari ibadah saya pun saya takkan merengek-rengek memohonnya).
Coba renungkan.
[Reply]
riyanti Reply:
October 24th, 2009 at 11:52 am
@Be_best161
Yang pertama :
Alhamdulillah jika jenengan termasuk orang yg sll bersyukur atas karunia nikmat yg telah dilimpahkan-Nya ke jenengan, trus yg saya kaget kok jenengan tidak bs melihat 1 hal baik pun bilang aja nikmat-Nya setelah musibah yg terjadi pada Anda? ato Anda salah mengartikan karunia nikmat itu sendiri? sehingga Anda tidak bisa melihat satu pun nikmat yg telah dilimpahkan-Nya pd Anda? coz banyak begete nikmat yg telah dilimpahkan-Nya kepada qt tanpa qt sadari dan seharusnya qt HARUS sadr akn hal ini, misalna : qt sampai detik ini masih bs menghirup udara bilang aj bernapas, qt bs melihat dg mata qt, bs mendengar dg telinga qt, de el el, tuh smua merupakn nikmat yg tak terhingga yg telah diberikan-NYa kpd qt.
Yang kedua :
Emang klo beribadah itu tidak boleh ad embel2 nya apapun kecuali mengharp ridha-Nya, but klo tuk bs menyemangati se2orang, misalna : qt berniat ato mengharpkan kelak dg ibadh qt, qt bs masuk surga-Nya, klo niatnya kek gt apa ndak boleh?? tingkatn iman se2orang itu berbeda2, klo dg itu dia bs bersemangat tuk beribadh kepad-NYa knp ndak boleh? Alloh yg Maha MEngetahui semua yg ghaib, klo yg udah sufi mah pasti hanya mengharp ridha-Nya sj tp klo masih awm kyk gini ya monggo qt belajar dl, so bs nyimpulkan sendiri kan??
Matur tengkyu buat kunjunganna ^-^
CMIIW
Salam sayank
[Reply]
dibalik segala peristiwa ada makna….dan pasti semua untuk kebaikan kita
[Reply]
riyanti Reply:
October 24th, 2009 at 11:54 am
@KAng Adin
Setuju kang…
Salam sayank
[Reply]
merenung….
nice wrote….
[Reply]
riyanti Reply:
October 24th, 2009 at 11:58 am
@Amink
Merenung….jangan merenung trus berlarut2 menyesali kesalahn yg telah terjadi di belakng but setelah merenung qt HARUS bs memperbaiki kesalhn yg di belakng, manusia berhak melakukan perubahn tuk bs jadi yg terbaik buat dirinya….Uk!!!
Salam sayank
[Reply]
Assalamualaikum… apa kabar nya Teh?… lama ga berkunjung… moga baik2 aja…
[Reply]
riyanti Reply:
October 24th, 2009 at 12:00 pm
@Kang Casrudi
Wa’alaikum salam kang…
Alhamdulillah sae2 ^-^
Salam sayank
[Reply]
tenang wae semaua pasti ad jalan kok asal kita bersabar n bersabar tuhan pasti kasih yang terbaik
[Reply]
riyanti Reply:
October 24th, 2009 at 12:01 pm
@Mbah Gendeng
Klo menurutq bersabar n berusaha mbah hehehe….
Salam sayank
[Reply]
setuju dengan kang adin…
segala sesuatu yang terjadi pada kita pasti mempunyai makna, tinggal bagaimana kita menyikapi…
salam kangen…
[Reply]