Kekayaan yang Tiada Habis, Inginkah Engkau Memilikinya??? | BloG Riyanti dot Web dot Id

Kekayaan yang Tiada Habis, Inginkah Engkau Memilikinya???

August 20th, 2010 3 Comments

Qona’ah – merasa cukup dengan apa yang ada. Mudah diucapkan, sulit untuk dipraktekkan. Di zaman sekarang ini, sulit rasanya mewujudkan ini hanya dengan nasihat singkat, “Nak, bersikaplah qona’ah agar hidupmu tenang” atau nasihat-nasihat sejenis. Keterangan singkat yang disisipkan pada pengajian-pengajian juga belum mencukupi untuk menumbuhkan harta yang tiada habisnya ini. Hadits-hadits tentang qona’ah yang kita baca pun, (terkadang) tidak cukup membantu untuk serta merta memunculkan sifat itu pada diri kita, kecuali orang-orang yang diridhai Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Pondasi Qona’ah

Pondasi yang utama dan pertama adalah keyakinan yang benar. Keimanan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, mengenal Alloh dengan nama dan sifat-sifatnya berikut keagungan dan keindahan yang dikandungnya; keimanan yang mantap kepada hari akhir, keyakinan yang benar tentang takdir yang baik dan buruk; semua itu merupakan landasan utama untuk menumbuhkan sifat dan karakter mental yang sangat mahal harganya.

Keimanan dan pengetahuan seorang mukmin terhadap Alloh beserta nama dan sifatnya; akan menjadikan dirinya merenungkan firman, perintah dan penjelasan-Nya; yang hasilnya ia akan memahami hakikat dunia, hakikat dirinya, dan hakikat qona’ah beserta manfaatnya di dunia dan di akhirat.

Keimanan pada hari akhir akan mendorong seorang mukmin untuk memiliki sikap zuhud terhadap dunia. Pemikirannya selalu tertuju kepada hari akhir dan seluruh rangkaiannya, terutama ketika amal-amal kita dihisab. Dengan bekal ini ia paham, bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, sebagaimana yang ia pelajari dari Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Apa perluku dengan dunia? Perumpamaanku dengan dunia hanyalah ibarat pengendara yang tidur siang sejenak di bawah naungan sebuah pohon, kemudian berangkat di sore hari dan meninggalkannyaa.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Hal ini akan menjadikannya bersikap menerima apapun yang terjadi dengan dirinya dengan senang hati.

Keimanan terhadap takdir yang baik maupun buruk akan memberikan sikap tenang dan ridho terhadap apa yang dialami, suka maupun duka. Hatinya senantiasa lapang, ia tidak mengenal kata gundah dengan sedikitnya materi, lemahnya daya, maupun kemiskinan yang menimpanya.

Inginkah Engkau Memiliki Kekayaan Itu?

Sebagaimana akhlak-akhlak mulia lainnya, sebagai karakter mental, qona’ah dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya pendidikan, lingkungan, bertambah dan berkurangnya iman, serta ketinggian dan kerendahan cita-cita Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari menyebutkan beberapa faktor yang mendukung kita untuk memperoleh akhlak yang sangat berharga ini :

  1. Ilmu Agama

Inilah factor utama memperoleh harta yang tidak terkira ini. Dengan ilmu, kita mengetahui hakikat, manfaat, dan bahaya jika melalaikan qona’ah. Ilmu agama menjelaskan kepada kita hakikat dunia, menyingkap rahasia-rahasia, dan bahaya-bahaya terlalu berorientasi kepadanya. Ilmu agama akan mendorong kita untuk mencintai dan mengerahkan seluruh perhatian kita kepada kampong akhirat, kehidupan yang kekal dan abadi.

“Dan tiadalah kehidupan di dunia ini selain main-main dan senda gurau. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu memahaminya?” (Al-An’am:32)

Dengan ilmu pula kita memperoleh pengetahuan tentang Allah Azza wa Jalla dengan seluruh nama-Nya yang husna dan sifat-Nya yang tinggi. Kebenaran akidah: iman kepada hari akhir dan iman kepada takdir yang baik maupun buruk, yang hal itu merupakan pondasi dasar yang memiliki pengaruh sangat besar dalam mewujudkan sifat qona’ah, semuanya dapat diperoleh dengan ilmu agama.

  1. Keimanan yang  Mantap

Ilmu yang kita miliki (insya Allah) berbuah menjadi keimanan yang mantap. Kuat lemahnya sifat qona’ah dalam menghadapi berbagai “fitnah” dunia ini, sesuai dengan tingkat kekuatan iman yang ada setiap kita.

  1. Pemahaman yang benar tentang  Qadha dan Qadhar

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi-bagi riski dan keadaan hidup seluruh manusia sejak zaman azali. {pembagian yang dilakukan oleh Allah Subhanahu  wa Ta’ala merupakan ketetapan berdasarkan kebijakan dan ilmu-Nya. Jika kita memahami bahwa ambisi, keluh kesah, dan perhatian kita terhadap dunia dan harta, tidak akan menambah rizki (karena tidak mungkin kita bisa mengoreksi ketetapan dan qodar Allah); pemahaman seperti dapat menumbuhkan sifat qona’ah, tenang, rilex terhadap keadaan yang diterimanya, apakah kita kaya ataupun miskin.

Sikap ridho seorang mukmin dalam menghadapi ketetapan Qadha dan Qadar Allah akan memberikan kepadanya mata yang jeli dalam melihat kondisi kehidupan dan hakikat pembagiannya. Yang menetapkan rizkinya adalah Allah, Allah juga yang telah membeda-bedakan tingkat rizki, melebihi yang satu terhadap yang lainnya. Perbedaan ini merupakan ujian bagi kita; ujin bagi orang kaya dengan kelebihannya, ujian bagi orang miskin dengan kekurangannya.

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az Zukhruf:32)

“Bersikaplah ridha terhadap apa yang dibagikan oleh Allah, niscaya kamu menjadi manusia paling kaya.” (HR.Rahmad)

  1. Perjuangan Mental dan Bersabar

Sesuai dengan kebijakan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi kita nafsu yang senantiasa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Tuhan. (Yusuf:53). Salah satu bentuk keliaran nafsu adalah permusuhannya terhadap sikap Qona’ah. Selama kita tidak melawan nafsu beserta keliarannya, ketika itu kita telah membuka pintu-pintu ambisi, ketamakan, kerakusan, kekikiran, dan keluh kesah.

“Jauhilah sifat syuhh, karena sifat syuhh telah membinasakan orang-orang sebelummu, mendorong mereka untuk menumpahkan barang mereka dan melanggar hal-hal yang diharamkan bagi mereka.” (HR. Muslim).

Imam Ibnu Rojab Al Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa syuhh adalah ambisi besar yang mendorong pemiliknya mengambil banyak hal yang tidak halal, tidak menunaikan kewajiban terhadapnya. Substansi sifat ini adalah kerinduan diri kepada apa yang diharamkan oleh Allah serta tidak puas dengan yang telah dihalalkan oleh Allah, baik menyangkut harta, kemaluan, atau lainnya.

  1. Berdo’a dan Memohon kepada Allah

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, sikap menjaga martabat, dan kekayaan.” (HR. Muslim).

Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di, berkata : “Ini merupakan salah satu do’a yang paling luas cakupan maknanya dan paling bermanfaat. Do’a ini mengandung permohonan agar dikaruniai kebaikan di dunia dan di akhirat.”

‘Afaf (sikap menjaga martabat) dan  ghina (kekayaan) mengandung arti menjaga kehormatan di hadapan sesama manusia, tidak menggantungkan diri kepada mereka dan merasa kaya dengan Allah, rizki-Nya, sikap menerima dengan senang hati terhadap apa yang ada pada dirinya, serta diperolehnya kecukupan yang bisa menenangkan hati. Dengan semua itu, sempurnalah kebahagiaan hidup di dunia dan ketenangan batin, dan itulah hayah thoyyibah (kehidupan yang baik).

  1. Jauhi si Pengeluh

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda,”Seseorang mengikuti kawan dekatnya, maka hendaklah setiap orang dari kalian memperhatikan siapa yang menjadi kawan dekatnya.”

“Andaikata anak Adam memiliki dua lembah emas, pasti ia ingin memiliki dua lembah, dan mulutnya tidak kunjung bisa dipenuhi, kecuali dengan tanah. Dan Allah menerima taubat siapa yang bertaubat.” (HR.Bukhari-Muslim).

Manusia, memiliki watak dasar yang mendorongnya untuk mencintai harta dan dunia. (terkadang) hal ini menjadikan kita melupakan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Bagaimanapun keadaan yang ada pada diri kita, setiap kita pasti telah dikaruniai nikmat dari Allah yang saking banyaknya tidak mampu kita inventarisir dan hitung. Bukan hanya telah, tapi semua yang telah dan akan kita alami adalah nikmat dan karunia Allah yang terkira.

 

Sign up Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates, Enter your Email here:

Don't forget to confirm your email subcription

   

3 Comments to “Kekayaan yang Tiada Habis, Inginkah Engkau Memilikinya???”

  1. nurhayadi says:

    Lama nggak nongol, kemana aja…

    [Reply]

    riyanti Reply:

    hehehe…ea kang lg eror web`nya kagak mau dibuka dr sini :)

    [Reply]

  2. arif says:

    serasa menambah ilmu dtg ke sebuah majlis taklim,syukron :)

    [Reply]

Leave your comment here:


Support By :

AC

Kala`CBox