Jika anugrah itu membahagiakan
Maka cinta yang [katanya] merupakan anugrah dariNYA
...
Seharusnya juga membahagiakan
Namun adakalanya
Ada yang merasa tak bahagia dengan cinta
Atau janganlah terlalu dini menyebutnya cinta
Mari kita sebut saja sebuah rasa
Rasa yang berbeda
Yang [lagi-lagi katanya] menggetarkan jiwa
Aha...
Mungkin memang belum saatnya
Rasa itu ada
Hingga diri merasa nista dengan rasa
Atau...
Dan ketika kami memutuskan untuk saling mengerti, kami biarkan dua hati kami bicara, tentang impian-impian kami, tentang hasrat dan kerinduan, kemudian kami menjadi takjub, karena ternyata kami begitu berbeda namun sekaligus begitu serasi…..
….Banyak perbedaan antara kita, entah sampai kapan perbedaan itu tak ada lagi.
Dan ketika kata sepakat itu datang, kami pun berjanji untuk menyatukan kedua hati kami dalam satu bahtera, meski berbeda...
Wahai belahan hati dan jiwaku,
meskipun jauh di mata dan penglihatanku
Engkau adalah jiwaku meskipun aku tak melihatmu
Engkau bagiku lebih dekat daripada segala yang dekat dalam diriku
Bayanganmu selalu di mataku
mulutku selalu menyebutmu
Dan kau selalu di hatiku
mana mungkin engkau terlupakan olehku
Kulihat dia tampak berseri ceria
manakala kudatangi dia
Seakan-akan ku kan berikan kepadanya
sesuatu yang ku sendiri...
[caption id="" align="aligncenter" width="72" caption="Riyanti"][/caption]
Siapapun orangnya beroleh bencana pasti dari musuh
dan orang yang dengki, tetapi aku,
justru bencanaku datang dari mataku
dan juga dari kalbuku sendiri
Keduanya lah yang selalu membuatku terganggu
yaitu pandangan mata, kemudian pikiran
Keduanya tidak pernah membiarkan mataku terpejam
dan pikiranku tenang
Pandangan mataku lah yang membuat diriku...