HAIDL (4)
VI. MASA MENANTI (TAROBBUSH)
Wanita yang sedang mengeluarkan darah yang memungkinkan untuk dihukumi haidl (selain pada waktu yang diyakini masa suci) wajib untuk menanti. Artinya wajib menjauhi dan tidak menjalankan hal-hal yang diharamkan bagi wanita yang sedang haidl. Baik pada akhirnya darah tsb dihukumi haidl atau darah istihadloh. Kemudian ibadah wajib (sholat) yang ditinggalkan pada masa menanti, selain yang dihukumi haidl wajib untuk diqodho’.
Bagi wanita yang mengalami istihadloh, untuk bulan pertama istihadloh jika warna dan sifatnya darah sama atau darah kuat keluar lebih dulu dan darah keluar terus-menerus maka mandi wajibnya menanti sampai 15 hari. Sebab darah yang keluar dalam 15 hari 15 malam itu berkemungkinan darah haidl. Dan jika setelah genap 15 hari darah masih keluar, maka darah tsb kemungkinan besar bukan darah haidl. Oleh sebab itu mustahadloh tetap diwajibkan melakukan ibadah-ibadah wajib sesuai metode ibadahnya wanita yang istihadloh.
Sedangkan untuk bulan kedua istihadloh (dan seterusnya), mustahadloh harus mandi wajib manakala telah genap masa yang dihukumi haidl (baik dengan standart adat atau kuat lemahnya darah). Dan jika darah kuat keluar di tengah atau di akhir, maka masa menantinya dimungkinkan lebih dari 15 hari.
Contoh 1 :
Seorang wanita yang belum pernah haidl mengeluarkan darah sbb :
Darah kuat ………………………….= 10 hari
Darah lemah ………………………..= 20 hari
————————————————-
Masa menantinya adalah 15 hari 15 malam yang awal.
Contoh 2 :
Seorang wanita yang mempunyai adat haidl 5 hari dan suci 2 hari, mengeluarkan darah istihadloh sbb :
Darah lemah …………………….= 10 hari
Darah kuat ………………………= 10 hari
Darah lemah …………………….= 10 hari
———————————————-
Masa menanitnya adalah 20 hari 20 malam, dan haidlnya adalah 10 hari (darah kuat).
Dan jika dalam 15 hari 15 malam yang awal keluarnya darah terputus-putus (kadang keluar kadang berhenti) maka jika saat putus darah masa keluarnya darah sudah mencapai 24 jam, maka wajib mandi. Dan jika belum mencapai 24 jam, maka cukup bersuci dan wudlu saja (tidak wajib mandi), karena melihat dlohirnya darah yang tidak mencapai 24 jam itu bukan darah haidl. Selanjutnya pada masa suci (putus darah), dia diwajibkan melakukan aktivitas ibadah sebagaimana layaknya wanita yang tidak haidl (wajib sholat, boleh baca qur’an, bersenggama, dll). Dan jika setelah itu keluar darah lagi, maka menanti (tarobbush) lagi. Begitu seterusnya sampai 15 hari.
Contoh 1 :
Seorang wanita mengeluarkan darah dengan terputus-putus sbb :
Darah hitam …………………..= 5 hari
Darah berhenti ……………….= 3 hari
Darah merah ………………….= 2 hari
Darah berhenti ……………….= 3 hari
Darah keruh …………………..= 2 hari
——————————————
Haidl ………………..= 15 hari
Mandi wajib ……….= 3 kali (setelah hari ke-5, 10 dan 15)
Suci (sementara)….= 6 hari
Contoh 2 :
Hari MInggu keluar darah ………………….= 5 jam
Hari Senin keluar darah …………………….= 5 jam
Hari Selasa keluar darah ……………………= 5 jam
Hari Rabu keluar darah ……………………..= 5 jam
Hari Kamis keluar darah ……………………= 5 jam
———————————————————
Haidl ……………………= 5 hari
Mandi wajib …………..= 1 kali (hari Kamis)
Catatan :
1. Darah masih dihukumi keluar (belum terputus), sekiranya kapas yang dimasukkan masih ada warnanya darah, walaupun hanya berwarna keruh. Dan jika kapas yang dimasukkan sudah tidak ada bercak darah, maka dihukumi suci (putus darah).
2. Haidl atau suci yang diusahakan dengan obat itu sah dan boleh sepanjang tidak membahayakan pada tubuh dan aqal.
3. Anggota tubuh (mis. rambut, kuku, dll) yang putus saat sedang hadats besar (haidl, nifas atau junub) itu tidak wajib dibasuh. Yang wajib dibasuh adalah sisa potongan yang masih melekat pada tubuh. Sedangkan sengaja memutuskan hal-hal di atas hukumnya makruh.
4. Metode ibadahnya wanita yang mengalami (mengeluarkan) keputihan itu sebagaimana wanita yang istihadloh, karena meskipun bukan termasuk darah istihadloh hukumnya najis (sebab keluar dari anggota bagian dalam).
Sumber : Khoir, M. Masykur, 2003, Detik-Detik Haidl, Kediri, Duta Karya Mandiri.
Share This Article
Sign up Free Email Newsletter
Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates, Enter your Email here:Don't forget to confirm your email subcription









4 Comments to “HAIDL (4)”
Assalamu’alaikum wr. wb.
Terima kasih HAIDL-nya. Saya membutuhkan tulisan seperti ini untuk bekal anak didik saya. Boleh kan saya gunakan untuk referensi di kelas.
Terima kasih.
Suka ngabuburit ? Ke Cianjur aja.
Salam buat keluarga.
[Reply]
riyanti Reply:
September 11th, 2009 at 1:35 pm
@Pakde Aziz
Wa’alaikum salam pakde Aziz
MOnggo pakde, silakan ^-^
Salam sayank
[Reply]
mba, saya punya masalah seputar haid dimana darah haid lama sekali berhenti sampai saya harus diopname tambah darah…kata dokter saya kemungkinan terkena mioma uteri. namun setelah di USG tidak ada miom.bisakah disembukhkan penyakit ini mba….?
salam yanti
[Reply]
riyanti Reply:
September 12th, 2009 at 9:30 am
@Jeng Yanti
Sebelumna akuwh mau nanya jeng, itu masalahna apa emang sejak pertama haidl seperti itu? atau mungkin jeng Yanti sudah mempunyai kebiasaan haidl/adat haidl gt?
Klo sebelumna jeng Yanti udah mempunyai adat haidl, ex : 7 hari haidl, maka yg dihukumi haidl itu hanya 7 hari menurut adat haidl jeng Yanti n seterusna/darah yg keluar lg (setelah 7 hr ) itu hukumna istihadloh.
Trus klo soal penyakit mioma uteri/tumor jinak pada daerah rahim atau lebih tepatnya otot rahim dan jaringan ikat disekitarnya akuwh kurang tau, may be bs ditanyakan ke ahlinya/dokter spesialis gt…
CMIIW
Salam sayank
[Reply]