Archive for Sifat

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (Surah al-A’raf [7]:199)

“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)

“…dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At Taghaabun, 64:14)

“Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu yang termasuk perbuatan yang mulia.” (Qur’an 42:43)

“Allah tidak akan menambah kemaafan seseorang, melainkan dengan kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan dirinya karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (Hadits riyawat Bukhari dan Muslim)

Categories : Seputar Kata "Maaf"
Comments (2)

Qona’ah – merasa cukup dengan apa yang ada. Mudah diucapkan, sulit untuk dipraktekkan. Di zaman sekarang ini, sulit rasanya mewujudkan ini hanya dengan nasihat singkat, “Nak, bersikaplah qona’ah agar hidupmu tenang” atau nasihat-nasihat sejenis. Keterangan singkat yang disisipkan pada pengajian-pengajian juga belum mencukupi untuk menumbuhkan harta yang tiada habisnya ini. Hadits-hadits tentang qona’ah yang kita baca pun, (terkadang) tidak cukup membantu untuk serta merta memunculkan sifat itu pada diri kita, kecuali orang-orang yang diridhai Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Pondasi Qona’ah

Pondasi yang utama dan pertama adalah keyakinan yang benar. Keimanan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, mengenal Alloh dengan nama dan sifat-sifatnya berikut keagungan dan keindahan yang dikandungnya; keimanan yang mantap kepada hari akhir, keyakinan yang benar tentang takdir yang baik dan buruk; semua itu merupakan landasan utama untuk menumbuhkan sifat dan karakter mental yang sangat mahal harganya.

Keimanan dan pengetahuan seorang mukmin terhadap Alloh beserta nama dan sifatnya; akan menjadikan dirinya merenungkan firman, perintah dan penjelasan-Nya; yang hasilnya ia akan memahami hakikat dunia, hakikat dirinya, dan hakikat qona’ah beserta manfaatnya di dunia dan di akhirat.

Keimanan pada hari akhir akan mendorong seorang mukmin untuk memiliki sikap zuhud terhadap dunia. Pemikirannya selalu tertuju kepada hari akhir dan seluruh rangkaiannya, terutama ketika amal-amal kita dihisab. Dengan bekal ini ia paham, bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, sebagaimana yang ia pelajari dari Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Apa perluku dengan dunia? Perumpamaanku dengan dunia hanyalah ibarat pengendara yang tidur siang sejenak di bawah naungan sebuah pohon, kemudian berangkat di sore hari dan meninggalkannyaa.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Hal ini akan menjadikannya bersikap menerima apapun yang terjadi dengan dirinya dengan senang hati.

Keimanan terhadap takdir yang baik maupun buruk akan memberikan sikap tenang dan ridho terhadap apa yang dialami, suka maupun duka. Hatinya senantiasa lapang, ia tidak mengenal kata gundah dengan sedikitnya materi, lemahnya daya, maupun kemiskinan yang menimpanya.

Inginkah Engkau Memiliki Kekayaan Itu? Read More→

Ibnu Abas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Ada sepuluh golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, kecuali bagi yang bertobat. Mereka itu adalah al-qalla’, al-jayyuf, al-qattat, ad-daibub, ad-dayyus, shahibul arthabah, shahibul qubah, al-’utul, az-zanim, dan al-’aq li walidaih.

Selanjutnya Rasulullah saw. ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah al-qalla’ itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka mondar-mandir kepada penguasa untuk memberikan laporan batil dan palsu.”

Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah al-jayyuf itu?” Read More→

Comments (12)
Aug
15

Saat Dia Menolak Memaafkanku!!!

Posted by: riyanti | Comments (5)

memaafkanAnda sudah memohon ampun kepada Allah atas segala dosa. Anda juga ingin meminta maaf kepada mereka yang Anda sakiti dengan perbuatan Anda. Namun apa yang harus Anda lakukan bila maaf tak kunjung diberikan?

Mudah diucapkan…

Maaf. Inilah salah satu kata yang sering kali mudah diucapkan namun sulit dilaksanakan dengan hati dan keikhlasan. Setiap Lebaran tiba, mudah saja kita mengulurkan tangan kepada orang lain sambol mengatakan “maaf lahir batin” tanpa benar-benar berniat meminta maaf. Tanpa benar-benar berfikir : “Dalam waktu setahun ini, sudah berapa kata yang kuucapkan yang mungkin menyakiti hati saudaraku ini? Sudah berapa banyak perbuatanku yang mungkin merugikan dia? Bagaimana kalau dia tak ridha? Mestikah aku pulang ke akhirat dengan membawa beban dosa dan kesalahan yang belum diikhlaskan?”

Read More→

Comments (5)
Aug
14

Ikhlas adalah Persoalan Hati

Posted by: riyanti | Comments (5)

Memang terlalu sederhana menggambarkan ikhlas seperti itu. Dalam agama, ikhlas merupakan ibadah hati yang paling mendapatkan perhatian para Ulama. Sesuatu yang tidak mudah, sulit diartikan karena menyangkut persoalan hati.
Seperti dikatakan Ibnu Qayyim, ikhlas adalah memurnikan niat dan segala aktivitas sebagai kholifah Allah di muka bumi, hanya untuk mencari ridho-Nya. Seorang hamba yang terlatih dengan jiwa ikhlas, tidak mungkin mencari pujian, popularitas, berebut jabatan atau kedudukan. Orang yang mencari-cari popularitas atau jabatan, tentu ada maksud tertentu yang seringkali didorong oleh hawa nafsu. Adakalanya melakukan aktivitas karena menginginkan namanya dikenal, menjadi buah bibir, mendapat penghormatan, pujian dan sebagainya. Oleh karenanya, ia akan kecewa, apabila yang diinginkan itu tidak terwujud. Bahkan tidak mustahil akan terputus asa atau kapok melakukan suatu aktivitas yang sama. Hal yang demikian ini mengindikasikan tidak adanya ikhlas dalam suatu perbuatan, baik berupa amal yang langsung maupun berhubungan dengan Allah, maupun amal sosial dalam hidup bermasyarakat.

Read More→

Categories : Ikhlas, Sifat
Comments (5)